Cerita Kami

Namaku Lisa (nama samaran). Aku adalah seorang gadis remaja biasa yang terlahir dari rahim seorang malaikat-yaitu Mama ku-pada tanggal 08 July 1998. Aku memiliki 2 saudara kandung dan aku adalah anak kedua. Sebenarnya aku mempunyai adik, bernama Wanu, namun Wanu telah pulang terlebih dahulu meninggalkan kami. Wanu meninggal saat usianya masih 11 tahun.Saat kejadian itu Mama sedang sakit lumayan parah. Hari Senin, saat pulang sekolah Wanu mengeluh tidak enak badan, dan ternyata badannya memang demam. Selasa malam, Ia dibawa ke Puskesmas dekat rumah. Mama berpikir jika Wanu dirawat di Puskesmas mungkin keadaannya akan membaik, tetapi dokter disana menyarankan agar ia dirawat di rumah karena hanya demam biasa. Dan akhirnya Wanu dibawa pulang ke rumah kembali. Jum’at sekitar jam 3 pagi kondisi Wanu memburuk, kami berlari ke Puskesmas yang sama saat pertama kali berobat, namun ditolak, dan juga 2 rumah sakit lainnya dengan mengaku ‘kamar penuh’. Akhirnya di Rumah Sakit yang ketiga Wanu diterima, namun ia sudah tidak dapat tertolong lagi. Semuanya berduka atas kepergian Wanu.

Kondisi Mama pun semakin memburuk, Mama jadi lebih sering bolak-balik rumah sakit. Saat itu bahkan Mama hampir putus asa karena keadaannya yang semakin memburuk, tetapi semangat Mama untuk sembuh saat itu adalah aku dan kakakku. Aku bersyukur karena akhirnya Mama bisa sembuh dan beraktifitas normal kembali. Namun masalah tidak berhenti sampai disitu, tidak lama setelah Wanu meninggal, Ayah pergi meninggalkan kami bersama wanita lain. Betapa sakit hati dan kecewanya aku saat itu, bahkan sampai sekarang.

Setelah Ayah pergi meninggalkan kami tanpa memberi nafkah, satu-satunya sumber penghasilan sehari-hari keluarga hanya dari berjualan Nasi Uduk malam. Karena kakak ku saat ini belum memiliki pekerjaan yang tetap. Setiap hari sehabis sepulang sekolah aku selalu membantu Mama di warung. Membawakan dagangan ke warung, melayani pembeli, bahkan sampai malam. Biasanya kalau sedang ujian aku memanfaatkan waktu senggang di warung sambil membaca buku yang aku bawa dari rumah. Malahan kalau warung sedang ramai aku tidak sempat sama sekali membaca buku ataupun belajar.

Sekarang aku bersekolah di SMK Kesehatan Indonesia, Kelas 11 jurusan Farmasi. Aku adalah salah satu anak beruntung yang sering mendapat peringkat 1 di kelas dan Juara Umum dari SMP sampai sekarang Kelas 2 SMK. Tunggu, aku ini bukan orang yang pintar seperti yang orang kira. Tapi sekali lagi, aku hanya beruntung. Itu semua aku dapatkan karena telah berusaha dan bertekad. Waktu pertama kali aku masuk ke SMK atau saat kelas 10, aku belum beruntung untuk mendapatkan peringkat 1, paling tidak aku mendapat peringkat 2 atau 3. Tapi karena aku selalu bersyukur dengan apa yang telah aku dapatkan, akhirnya di kelas 11 aku mendapat peringkat 1 sekaligus Juara Umum.

Bersyukur karena banyak sekali orang-orang berhati mulia yang bersedia membantu biaya sekolahku, terutama Yayasan Aulia yang hingga sekarang masih membantu biaya sekolah. Jujur terkadang aku bingung saat banyak sekali tunggakan di sekolah, mau merengek minta uang untuk melunasi pun percuma, karena pasti hanya akan menambah beban pikiran Mama karena masih banyak hutang-hutang yang harus dibayar. Bersama Yayasan Aulia aku tidak hanya sekedar diberi bantuan biaya, tapi juga banyak sekali ilmu yang bisa aku dapatkan dan juga banyak sekali teman-teman baru.

Kami tinggal di sebuah kontrakan kecil yang sangat sederhana. Kami melakukan semua aktifitas sehari-hari kami disana. Tapi aku bersyukur masih diberi tempat tinggal yang nyaman bagiku untuk berteduh dan berlindung meskipun hanya ada atap bocor dan dinding dapur yang hampir roboh. Uang jajanku didapat dari membantu tetangga dan saudaraku untuk menyetrika atau membersihkan rumah mereka.

Cita-citaku ingin menjadi apoteker yang baik dan memiliki beberapa Apotek. Aku juga ingin menyediakan obat-obatan gratis bagi mereka yang kesulitan mendapat hak kesehatan yang layak. Jika diberi kesempatan aku juga ingin membangun sebuah panti asuhan agar aku bisa mengurus dan menyekolahkan anak-anak yatim piatu. Aku ingin membuat Mama bahagia dan memberikan kehidupan yang menyenangkan di hari tuanya nanti, Mama tidak perlu lagi merasakan letih membanting tulang.

Terima kasih Mama yang selalu mendukung setiap apa yang aku lakukan, memberiku kepercayaan, mengajari aku berbagai macam hal, mengurus dan memberiku perlindungan sejak aku masih dalam kandungan hingga sekarang. Entah bagaimana caraku untuk membalas semua jasa dan pengorbananmu.

 

Dodi
Bambang
Lisa
Yayasan Aulia adalah lembaga yang independen, nirlaba, dan non partisan.